Monday, July 04, 2005
Red Delicious
PADA 5 Juni 2005, sebuah lembaga studi Pemerintah Kanada mengumumkan bahwa apel merah Red Delicious mengandung antioksidan terbanyak dibandingkan dengan apel lainnya. Kandungan zat aktif pencegah kanker pada apel merah jenis ini mencapai 21.066 atau dua kali lipat dibandingkan dengan jenis apel lain yang beredar di pasaran.
Red Delicious adalah apel paling populer di seluruh dunia. Warnanya khas, merah tua, terkadang cenderung hampir hitam. Konon, apel ini ditemukan oleh petani Jesse Hiatt pada 1872 di Iowa. Saat ini, 27% produksi apel Amerika adalah Red Delicious.
Selama 100 tahun perkembangan Red Delicious, para petani di berbagai negara menampilkan aneka varietas baru. Di Indonesia, misalnya, ada 8-10 varietas apel yang bisa kita jumpai di banyak pasar swalayan. Varietas-varietas baru ini secara otomatis memberikan pilihan lebih bervariasi kepada konsumen. Dan apel Red Delicious pun mengalami persaingan tajam.
Ketika berita tentang riset terbaru kandungan antioksidan dalam Red Delicious merebak, berbagai media --termasuk jaringan CNN, CBS, dan MSNBC-- langsung menjadikannya berita. Saat itu, saya berada di Wenatchee, salah satu daerah sentral petani apel di Negara Bagian Washington. Saya bisa melihat langsung bagaimana berita itu begitu menyentak dan membuat penjualan apel Red Delicious naik tajam. Berita tersebut menuntun konsumen kembali ke apel Red Delicious.
Pada 23 Oktober 2001, perusahaan komputer Apple mengumumkan akan menjual iPod, alat pemutar musik digital yang baru. Harganya cukup mahal, hampir US$ 400. Kapasitasnya masih terbatas hanya 5 GB, dan cukup untuk memuat 1.000 lagu. Hanya dalam sebulan perusahaan komputer Apple berhasil menjual 125.000 unit.
Generasi pertama iPod memerlukan waktu satu setengah tahun untuk bisa menjual satu juta unit. Tapi, ketika generasi ketiga iPod diluncurkan, hanya dalam waktu enam bulan terjual 1 juta unit. Konon, penjualan iPod di seluruh dunia kini mencapai 6 juta unit lebih.
Mei 2003, perusahaan komputer Apple meluncurkan toko virtual iTunes, di mana setiap orang bisa men-download lagu dari internet dengan harga murah. Hanya dalam waktu seminggu, iTunes menjual sejuta lagu. Pada Oktober 2004, iTunes telah menjual 150 juta lagu secara virtual di internet.
Selama empat tahun periode itu, saya telah membeli dua iPod. Gosipnya, minimal satu di antara tiga mahasiswa aktif di kampus-kampus Amerika memiliki iPod. Bagi sebagian konsumen, iPod telah menjadi keharusan. Sama seperti memiliki telepon seluler.
Kedua fenomena di atas memiliki kesamaan tentang bagaimana sebuah tren tercipta di pasar. Tren Red Delicious tercipta berkat fenomena kesehatan, sedangkan iPod melalui desain dan gaya hidup.
Belum lama ini, Robyn Waters, bekas vice president trend, design and product development di perusahaan retail Target, menulis sebuah buku kecil berjudul The Trendmaster's Guide. Isinya unik. Ia menulis 26 fenomena tentang terciptanya sebuah tren. Dari intuisi hingga observasi yang serba teliti, dan kejelian menerjemahkan perubahan konsumen.
Robyn selama 30 tahun bekerja sebagai analis tren. Pada akhir bukunya, Robyn menampilkan kesimpulan yang mirip dengan anti-marketing. Setiap ada tren, pasti akan ada anti-tren. Ia mengutip ucapan Lao Tzu, "Ketika dua hal yang berlawan bertemu dan menjadi suplemen satu dan lainnya, maka semuanya akan akur harmonis."
Apel Red Delicious yang dianggap sudah membosankan menemukan tren baru bukan lantaran kelezatan rasanya, melainkan pada khasiatnya. Ketika dunia kita dipenuhi alat serba mutakhir dan penuh tombol, iPod tiba dengan desain sederhana tanpa tombol dan tampil polos. Desain iPod menjadi anti-tren yang memberikan klimaks baru.
Dikutip dari http://www.gatra.com/artikel.php?id=85874
Red Delicious adalah apel paling populer di seluruh dunia. Warnanya khas, merah tua, terkadang cenderung hampir hitam. Konon, apel ini ditemukan oleh petani Jesse Hiatt pada 1872 di Iowa. Saat ini, 27% produksi apel Amerika adalah Red Delicious.
Selama 100 tahun perkembangan Red Delicious, para petani di berbagai negara menampilkan aneka varietas baru. Di Indonesia, misalnya, ada 8-10 varietas apel yang bisa kita jumpai di banyak pasar swalayan. Varietas-varietas baru ini secara otomatis memberikan pilihan lebih bervariasi kepada konsumen. Dan apel Red Delicious pun mengalami persaingan tajam.
Ketika berita tentang riset terbaru kandungan antioksidan dalam Red Delicious merebak, berbagai media --termasuk jaringan CNN, CBS, dan MSNBC-- langsung menjadikannya berita. Saat itu, saya berada di Wenatchee, salah satu daerah sentral petani apel di Negara Bagian Washington. Saya bisa melihat langsung bagaimana berita itu begitu menyentak dan membuat penjualan apel Red Delicious naik tajam. Berita tersebut menuntun konsumen kembali ke apel Red Delicious.
Pada 23 Oktober 2001, perusahaan komputer Apple mengumumkan akan menjual iPod, alat pemutar musik digital yang baru. Harganya cukup mahal, hampir US$ 400. Kapasitasnya masih terbatas hanya 5 GB, dan cukup untuk memuat 1.000 lagu. Hanya dalam sebulan perusahaan komputer Apple berhasil menjual 125.000 unit.
Generasi pertama iPod memerlukan waktu satu setengah tahun untuk bisa menjual satu juta unit. Tapi, ketika generasi ketiga iPod diluncurkan, hanya dalam waktu enam bulan terjual 1 juta unit. Konon, penjualan iPod di seluruh dunia kini mencapai 6 juta unit lebih.
Mei 2003, perusahaan komputer Apple meluncurkan toko virtual iTunes, di mana setiap orang bisa men-download lagu dari internet dengan harga murah. Hanya dalam waktu seminggu, iTunes menjual sejuta lagu. Pada Oktober 2004, iTunes telah menjual 150 juta lagu secara virtual di internet.
Selama empat tahun periode itu, saya telah membeli dua iPod. Gosipnya, minimal satu di antara tiga mahasiswa aktif di kampus-kampus Amerika memiliki iPod. Bagi sebagian konsumen, iPod telah menjadi keharusan. Sama seperti memiliki telepon seluler.
Kedua fenomena di atas memiliki kesamaan tentang bagaimana sebuah tren tercipta di pasar. Tren Red Delicious tercipta berkat fenomena kesehatan, sedangkan iPod melalui desain dan gaya hidup.
Belum lama ini, Robyn Waters, bekas vice president trend, design and product development di perusahaan retail Target, menulis sebuah buku kecil berjudul The Trendmaster's Guide. Isinya unik. Ia menulis 26 fenomena tentang terciptanya sebuah tren. Dari intuisi hingga observasi yang serba teliti, dan kejelian menerjemahkan perubahan konsumen.
Robyn selama 30 tahun bekerja sebagai analis tren. Pada akhir bukunya, Robyn menampilkan kesimpulan yang mirip dengan anti-marketing. Setiap ada tren, pasti akan ada anti-tren. Ia mengutip ucapan Lao Tzu, "Ketika dua hal yang berlawan bertemu dan menjadi suplemen satu dan lainnya, maka semuanya akan akur harmonis."
Apel Red Delicious yang dianggap sudah membosankan menemukan tren baru bukan lantaran kelezatan rasanya, melainkan pada khasiatnya. Ketika dunia kita dipenuhi alat serba mutakhir dan penuh tombol, iPod tiba dengan desain sederhana tanpa tombol dan tampil polos. Desain iPod menjadi anti-tren yang memberikan klimaks baru.
Dikutip dari http://www.gatra.com/artikel.php?id=85874