Tuesday, September 13, 2005
Posisi Cisco Mulai Terancam

Seiring dengan bangkitnnya kembali bisnis router, pemimpin pasar, Cisco Systems, melihat saingannya, Juniper Networks, semakin mendekat. Posisi Cisco terancam?
Penjualan router pada kwartal kedua tahun ini meningkat 8 persen menjadi US$ 2,5 miliar (US$1 = Rp 10.015,00 sumber: detik.com), seperti yang dilaporkan oleh Dell'Oro Group, sebuah perusahaan analis. Hal ini juga dinilai sebagai pertumbuhan kuartal tertinggi sejak tahun 2000.
Pasalnya pasaran router selama ini sempat sepi akibat terpuruknya bisnis dotcom atau yang lebih dikenal dengan peristiwa dotcom bubble burst. Terutama setelah sejumlah perusahaan menghentikan pembelian peralatan routing.
Kendatipun begitu, Cisco tetap menjadi pemimpin pasar dengan perolehan pangsa pasar sebesar 78 persen. Sementara itu, Juniper Networks yang sudah mulai memasuki pasaran, pertumbuhan
sahamnya meningkat 13 hingga 16 persen tahun ke tahun."Juniper telah menggerogoti dominasi Cisco," ujar Umedia, analis Dell'Oro. "Pada pasar high-end, Juniper dinilai sangat baik," tandasnya seperti dilansir vnunet.com yang dikutip detikinet Senin (22/8/2005).
Sebagai informasi, Juniper pada dasarnya bermain pada segmen sistim routing core. Nilai router semakin meningkat mulai dari harga setengah juta dollar yang mayoritas digunakan oleh penyedia jasa telekomunikasi dan segenap perusahaan-perusahaan besar.
Segmen pasar ini memang tempat 'basah' sejak dua tahun belakangan, seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan koneksi internet broadband.
Umeda memprediksi, investasi besar-besaran pada area tersebut belum begitu banyak. Karena penyedia jasa baru saja memulai aplikasi bandwidth terkait misalnya seperti televisi internet.
Google Kini Hadirkan 'Google Talk'

Google, situs mesin cari paling top di dunia, telah merilis layanan suara online dan pesan instan seperti apa yang dilakukan rival bisnisnya, Skype, Microsoft dan Yahoo. Layanan gratis itu disebut Google Talk.
Google Talk memungkinkan pemilik rekening e-mail dapat berkomunikasi satu sama lain melalui komputer dengan fasilitas tambahan microphone dan speaker.
Mengenai langkah yang ditempuh Google ini,ada spekulasi mengatakan Google akan menggunakan dana hasil penjualan sahamnya senilai US$ 4 miliar (US$ 1 = Rp 10.245 sumber : detik.com) untuk membuka jalan ke pasaran layanan suara via internet.
Google Talk juga sedianya menawarkan layanan instant messaging, tetapi tidak seperti Skype ataupun Vonage, Google Talk tidak memungkinkan penggunanya untuk melakukan panggilan telepon ke ponsel atau telepon lokal.
Permintaan untuk layanan telepon online sekiranya akan merebak tahun-tahun mendatang. Pasalnya, pelanggan menginginkan cara yang murah untuk melakukan panggilan telepon serta mengambil keuntungan dari koneksi internet yang cepat.
Google kini memang tengah mencari cara-cara berbeda untuk mendorong pendapatannya. Tahun lalu perusahaan tersebut mulai menawarkan layanan e-mail gratis bagi sejumlah pengguna yang terbatas. Meskipun sekarang mereka sudah diizinkan untuk mengundang sejumlah orang yang terbatas untuk bergabung.
Layanan e-mail tersebut disebut Gmail. Dan ini adalah salah satu sumber pendapatan Google lewat pemasangan iklan kecil disepanjang pesan. Iklan tersebut disesuaikan dengan hal yang sedang didiskusikan.
Sementara itu Google Talk tidak menampilkan iklan. Namun pihak Google berharap hal ini akan membantu untuk membuat orang tertarik mendaftar Gmail.
"Ini merupakan bagian yang hilang dalam strategi Google secara umum. Seiring dengan pertumbuhan mereka menjadi pemain besar dalam segmen internet," ujar Greg Sterling, seorang analis dari Kelsey Group seperti dilansir BBC yang dikutip detikinet Kamis (25/8/2005).
Software Google Talk akan dibuat berbasis open software. Artinya pihak Google memungkinakn teknologinya untuk dapat diintegrasi ke dalam situs dan aplikasi lain.
Google Talk juga sedianya akan menawarkan penggunanya kemampuan berbicara dengan orang lain pada provider yang berbeda. Sesuatu yang belum bisa dilakukan perusahaan pesaing yang menggunakan sistem tertutup.
Analis memperingatkan, bagaimanapun juga Google memiliki banyak kesempatan untuk memengungguli lawan-lawan bisnisnya seperti Yahoo, AOL, dan Microsoft, yang sudah lebih dulu memiliki jutaan pelanggan
Google Talk memungkinkan pemilik rekening e-mail dapat berkomunikasi satu sama lain melalui komputer dengan fasilitas tambahan microphone dan speaker.
Mengenai langkah yang ditempuh Google ini,ada spekulasi mengatakan Google akan menggunakan dana hasil penjualan sahamnya senilai US$ 4 miliar (US$ 1 = Rp 10.245 sumber : detik.com) untuk membuka jalan ke pasaran layanan suara via internet.
Google Talk juga sedianya menawarkan layanan instant messaging, tetapi tidak seperti Skype ataupun Vonage, Google Talk tidak memungkinkan penggunanya untuk melakukan panggilan telepon ke ponsel atau telepon lokal.
Permintaan untuk layanan telepon online sekiranya akan merebak tahun-tahun mendatang. Pasalnya, pelanggan menginginkan cara yang murah untuk melakukan panggilan telepon serta mengambil keuntungan dari koneksi internet yang cepat.
Google kini memang tengah mencari cara-cara berbeda untuk mendorong pendapatannya. Tahun lalu perusahaan tersebut mulai menawarkan layanan e-mail gratis bagi sejumlah pengguna yang terbatas. Meskipun sekarang mereka sudah diizinkan untuk mengundang sejumlah orang yang terbatas untuk bergabung.
Layanan e-mail tersebut disebut Gmail. Dan ini adalah salah satu sumber pendapatan Google lewat pemasangan iklan kecil disepanjang pesan. Iklan tersebut disesuaikan dengan hal yang sedang didiskusikan.
Sementara itu Google Talk tidak menampilkan iklan. Namun pihak Google berharap hal ini akan membantu untuk membuat orang tertarik mendaftar Gmail.
"Ini merupakan bagian yang hilang dalam strategi Google secara umum. Seiring dengan pertumbuhan mereka menjadi pemain besar dalam segmen internet," ujar Greg Sterling, seorang analis dari Kelsey Group seperti dilansir BBC yang dikutip detikinet Kamis (25/8/2005).
Software Google Talk akan dibuat berbasis open software. Artinya pihak Google memungkinakn teknologinya untuk dapat diintegrasi ke dalam situs dan aplikasi lain.
Google Talk juga sedianya akan menawarkan penggunanya kemampuan berbicara dengan orang lain pada provider yang berbeda. Sesuatu yang belum bisa dilakukan perusahaan pesaing yang menggunakan sistem tertutup.
Analis memperingatkan, bagaimanapun juga Google memiliki banyak kesempatan untuk memengungguli lawan-lawan bisnisnya seperti Yahoo, AOL, dan Microsoft, yang sudah lebih dulu memiliki jutaan pelanggan
Brand Power
BAYANGKAN, apabila Anda memiliki satu ajian atau mantra dahsyat luar biasa yang bisa menyihir semua konsumen untuk membeli produk atau jasa yang Anda jual! Bayangkan pula, di tangan Anda ada sebuah jimat yang mampu membuat semua konsumen menjadi pelanggan fanatik produk Anda! Sebuah konsep yang ideal, bukan?
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, praktisi pemasaran yakin dan percaya bahwa ajian dan mantra itu memang ada. Mereka menyebutnya merek. Namun, agar ajian dan mantra itu menjadi manjur, abadi, dan langgeng, diperlukan sebuah gaya manajemen tertentu.
Tiap tahun, Interbrand, sebuah konsultan merek global, membuat peringkat nilai tertinggi merek-merek global di seluruh jagat raya. Pekan lalu, Interbrand mengumumkan peringkat tahun 2005. Ada merek tertentu yang naik pamornya, dan ada pula yang semakin susut dan redup.
Salah satu merek yang peringkatnya meningkat tahun ini adalah Samsung. Naik satu peringkat dari 21 ke 20. Nilai mereknya juga ikut naik, 19%. Dari hanya US$ 12,55 milyar menjadi US$ 14,96 milyar.
Hampir 10 tahun lalu, Samsung hanya dikenal sebagai produsen produk elektronik murah. Pada 2001, mereka memutuskan untuk berbelok arah dan mengubah ajian dan mantranya secara global. Samsung mulai memproduksi produk-produk yang lebih nge-tren dan berkualitas tinggi. Mulai telepon seluler, televisi plasma, hingga komputer laptop. Strateginya memang jitu. Pesona merek Samsung semakin manjur.
Sebaliknya Sony, misalnya, mengalami situasi kurang menguntungkan. Selama kuartal I 2005, Sony rugi besar, 7,26 milyar yen. Sony terlambat bertarung di pasar televisi plasma, dan PlayStation mereka dihantam persaingan kiri dan kanan. Peringkat merek Sony anjlok dari 20 ke 28. Nilai merek mereka ikut susut 16%.
Bintang lainnya adalah Google. Sebagai pendatang baru, merek internet ini berada di urutan ke-38 dengan nilai merek US$ 8,46 milyar. Google berhasil mengalahkan merek internet lainnya, seperti Yahoo! yang berada di posisi ke-58 dan eBay di posisi ke-55.
Padahal, Google selama 2004 hanya mengeluarkan biaya US$ 5 juta, yang cenderung sangat kecil bila dibandingkan dengan para pesaingnya yang lain. Tapi, karena taktiknya cerdas, maka efektivitasnya berlipat ganda. Google semakin populer sebagai search engine di internet.
Fenomena itu membuka tabir dan rahasia keandalan manajemen untuk membuat merek tertentu menjadi sangat sakti atau lebih populer yang disebut sebagai "brand power". Kesaktian ini, bila dimanfaatkan dengan baik, jelas akan mendatangkan rezeki. Misalnya saja meningkatkan loyalitas pelanggan dan menjadi tolok ukur pelanggan untuk memilih produk.
Brand power yang besar dan dahsyat juga cenderung memudahkan produsen mengembangan produk lain dengan merek yang sama. Keuntungan terbesar tentu saja pada saat go public, di mana brand power cenderung akan mendongkrak nilai dan harga saham.
Salah satu bukti kesaktian brand power adalah merek Apple, yang terkenal sebagai pembuat komputer yang kreatif. Tahun ini, Apple naik dua peringkat ke urutan ke-41. Nilai mereknya juga naik 16%, menjadi hampir US$ 8 milyar. Umumnya pemakai komputer Apple memang dikenal sebagai loyalis.
Situasi ini dimanfaatkan oleh Apple dengan membuat peranti MP3 yang kini dikenal dengan iPod. Sejak diluncurkan pada 23 Oktober 2001, iPod sudah terjual di atas 6 juta unit di seluruh dunia. Harga sahamnya naik 200% selama tiga tahun terakhir ini.
Menciptakan dan memopulerkan merek memang kelihatan tidak terlalu sulit. Namun membuat merek manjur yang berdaulat dan berkuasa mempengaruhi konsumen, sehingga memiliki brand power, sungguh tidak gampang. Tapi inilah rahasia sejati yang dicari banyak orang.
Dalam beberapa dasawarsa terakhir, praktisi pemasaran yakin dan percaya bahwa ajian dan mantra itu memang ada. Mereka menyebutnya merek. Namun, agar ajian dan mantra itu menjadi manjur, abadi, dan langgeng, diperlukan sebuah gaya manajemen tertentu.
Tiap tahun, Interbrand, sebuah konsultan merek global, membuat peringkat nilai tertinggi merek-merek global di seluruh jagat raya. Pekan lalu, Interbrand mengumumkan peringkat tahun 2005. Ada merek tertentu yang naik pamornya, dan ada pula yang semakin susut dan redup.
Salah satu merek yang peringkatnya meningkat tahun ini adalah Samsung. Naik satu peringkat dari 21 ke 20. Nilai mereknya juga ikut naik, 19%. Dari hanya US$ 12,55 milyar menjadi US$ 14,96 milyar.
Hampir 10 tahun lalu, Samsung hanya dikenal sebagai produsen produk elektronik murah. Pada 2001, mereka memutuskan untuk berbelok arah dan mengubah ajian dan mantranya secara global. Samsung mulai memproduksi produk-produk yang lebih nge-tren dan berkualitas tinggi. Mulai telepon seluler, televisi plasma, hingga komputer laptop. Strateginya memang jitu. Pesona merek Samsung semakin manjur.
Sebaliknya Sony, misalnya, mengalami situasi kurang menguntungkan. Selama kuartal I 2005, Sony rugi besar, 7,26 milyar yen. Sony terlambat bertarung di pasar televisi plasma, dan PlayStation mereka dihantam persaingan kiri dan kanan. Peringkat merek Sony anjlok dari 20 ke 28. Nilai merek mereka ikut susut 16%.
Bintang lainnya adalah Google. Sebagai pendatang baru, merek internet ini berada di urutan ke-38 dengan nilai merek US$ 8,46 milyar. Google berhasil mengalahkan merek internet lainnya, seperti Yahoo! yang berada di posisi ke-58 dan eBay di posisi ke-55.
Padahal, Google selama 2004 hanya mengeluarkan biaya US$ 5 juta, yang cenderung sangat kecil bila dibandingkan dengan para pesaingnya yang lain. Tapi, karena taktiknya cerdas, maka efektivitasnya berlipat ganda. Google semakin populer sebagai search engine di internet.
Fenomena itu membuka tabir dan rahasia keandalan manajemen untuk membuat merek tertentu menjadi sangat sakti atau lebih populer yang disebut sebagai "brand power". Kesaktian ini, bila dimanfaatkan dengan baik, jelas akan mendatangkan rezeki. Misalnya saja meningkatkan loyalitas pelanggan dan menjadi tolok ukur pelanggan untuk memilih produk.
Brand power yang besar dan dahsyat juga cenderung memudahkan produsen mengembangan produk lain dengan merek yang sama. Keuntungan terbesar tentu saja pada saat go public, di mana brand power cenderung akan mendongkrak nilai dan harga saham.
Salah satu bukti kesaktian brand power adalah merek Apple, yang terkenal sebagai pembuat komputer yang kreatif. Tahun ini, Apple naik dua peringkat ke urutan ke-41. Nilai mereknya juga naik 16%, menjadi hampir US$ 8 milyar. Umumnya pemakai komputer Apple memang dikenal sebagai loyalis.
Situasi ini dimanfaatkan oleh Apple dengan membuat peranti MP3 yang kini dikenal dengan iPod. Sejak diluncurkan pada 23 Oktober 2001, iPod sudah terjual di atas 6 juta unit di seluruh dunia. Harga sahamnya naik 200% selama tiga tahun terakhir ini.
Menciptakan dan memopulerkan merek memang kelihatan tidak terlalu sulit. Namun membuat merek manjur yang berdaulat dan berkuasa mempengaruhi konsumen, sehingga memiliki brand power, sungguh tidak gampang. Tapi inilah rahasia sejati yang dicari banyak orang.