Kerja Tanpa Kantor? Siapa Takut
Oleh: Onno W Purbo, Jakarta Penghasilan yang mencukupi, kebebasan bekerja dan gaya hidup ternyata banyak ditawarkan oleh pekerjaan-pekerjaan yang dilalukan para profesional. Uniknya, pekerjaan mereka dilakukan tanpa memerlukan tempat-tempat khusus seperti kantor.
Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh sebagian besar orang tua kita bahwa pada hari ini dan kemungkinan besar dimasa yang akan datang bahwa bekerja tidaklah identik dengan berkantor.
Pada tempo doeloe, bekerja di kantoran mungkin sangat bergengsi dan menjadi kelas elit tersendiri pada generasi eyang, tante, oom dan para orang tua kita. Kalau kita bekerja sendiri, di rumah - wah bisa repot urusan dengan mertua dan orang tua. Di cap orang tak berguna lah, tidak terpakai dan lain-lain.
Sialnya, pada hari ini, para orang tua tampaknya harus gigit jari dan menerima kenyataan bahwa justru semakin banyak dan semakin bergengsi pekerjaan-pekerjaan yang tidak mempunyai pekerjaan eh kantor. Mengapa? Karena pada akhirnya yang di tuntut dari seorang profesional bukan absensi kantor-nya melainkan target / hasil / pencapaian objektif. Kecuali di lembaga pemerintahan, absensi tampaknya masih menjadi paradigma berkarya. Yah, selamat bertugaslah untuk rekan-rekan PNS.
Mungkin karena saya berada di dunia Internet, dalam banyak kesempatan saya bertemu banyak profesional dengan mobilitas tinggi. Kalaupun mempunyai kantor, sering kali meninggalkan kantornya - bahkan sangat lumrah jika pekerjaannya dikerjakan di rumah atau sambil ngobrol dan minum kopi di cafe bersama mitra-mitra-nya.
Leisure, hobi, kebebasan dan mengerjakan apa yang mereka sukai sangat dominan di diri para profesional tersebut. Bukan hal yang aneh jika kita melihat teman-teman profesional ini seakan tidak terikat pada satu kantor yang tetap. Pekerjaan kontrakan dan servis yang mengandalkan profesionalitas dan keahlian yang sangat spesifik menjadi sangat dominan diantara para profesional. Tampaknya, keahlian dan kesukaan yang spesifik menjadi andalan para profesional yang umumnya masih muda antara usia 27-40-an tahun.
Hobi, kebebasan dan mengerjakan apa yang mereka sukai sangat dominan di diri para profesional tersebut. Bukan hal yang aneh jika kita melihat teman-teman profesional ini seakan tidak terikat pada satu kantor yang tetap. Pekerjaan kontrakan dan servis yang mengandalkan profesionalitas dan keahlian yang sangat spesifik menjadi sangat dominan diantara para profesional. Tampaknya, keahlian dan kesukaan yang spesifik menjadi andalan para profesional yang umumnya masih muda antara usia 27-40-an tahun.
Penghasilan? Jangan ditanya, minimal Rp. 5-10 juta merupakan gross monthly income paling buruk diantara profesional ini. Jelas jauh lebih baik daripada fresh graduate yang umumnya Rp. 750.000 / bulan itu. Memang masih sedikit para profesional yang bekerja betul-betul bebas dan sangat mobile seperti ini, tapi kecenderungan ke arah itu sangat menonjol terutama di rekan-rekan muda usia sekitar 30-an.
Menjadi terbaik adalah dambaan dalam suasana kompetisi yang sehat. Pengakuan dilakukan secara langsung oleh komunitas, bahkan bukan hal yang luar biasa jika terekspose oleh media massa - karena mereka memang terbaik tanpa mekanisme KKN murni kompetisi dan fight.
Laptop, palmtop, personal digital assistance (PDA), handphone menjadi peralatan yang sangat lumrah bagi para profesional tersebut. Yah minimal akses ke warnet yang didukung dengan handphone menjadi ciri khas para rekan muda tersebut. Komunikasi yang intens menjadi ciri khas dari para profesional ini, e-mail traffic di berbagai mailing list yang diselingi oleh banyak berita SMS berseliweran di layar telepon genggam menjadi bagian integral kehidupan mereka. Bahkan sebagian besar berkas pekerjaan-pun banyak dikirim dalam bentuk attachment di e-mail. Memang kadang sebagian merupakan canda tawa diantara mereka, tapi itulah bagian dari ke akraban kehidupan di dunia tanpa batas yang banyak di nikmati terutama oleh profesional muda maupun mahasiswa/siswa.
Pada tingkat yang lebih serius, jangan kaget jika di kereta api, ruang tunggu airport, pesawat terbang melihat para profesional asik men-tik keyboard Nokia 9230 atau bekerja secara online pada PDA / Palmtop Jornada-nya yang terkait dengan PCMCIA modem dengan built-in pesawat handphone. Unified messaging antara SMS, e-mail, FAX menjadi teknologi pemicu, teknologi unified messaging sudah sangat terasa saat ini - integrasi antara berita SMS ke e-mail ke FAX dapat menjadi saling terkait dan sangat membantu para eksekutif dan profesional mobile untuk bermanouver di dunia informasi.
Itulah kantor mereka. Itulah gaya bekerja mereka, gaya hidup sebagian profesional muda yang sangat mobile pada hari ini. Bukan mustahil jumlah mereka akan semakin banyak di masa mendatang. Investasi peralatan US$400-1000 menjadi ter-justified dengan gross income minimal mereka yang antara 500-1000 dolar AS/ bulan.
Kapankah Anda mampu melakukan hal tersebut? Jelas bukan pada saat anda memiliki laptop, palmtop atau HP - hal tersebut akan terjadi dengan sendiri-nya pada saat anda memiliki skill keahlian yang sangat spesifik dan diakui ke-profesionalisme-annya oleh komunitas.
Umumnya bekas mahasiswa saya mampu mencapai tahapan tersebut dalam waktu 2-4 tahun, jika dipupuk dengan benar dan baik di masa sekolah di perguruan tinggi dan SMU.***
# posted by Ardra @ 1/26/2006 02:38:00 PM