Monday, June 12, 2006

 

World Soccer Fever


World Soccer Fever – demam piala dunia, ternyata demam tidak selamanya berkonotasi negatif, seperti demam berdarah atau malaria. Sebenarnya apa sih keasyikan piala dunia, sehingga orang-orang seantero dunia ramai menonton dan membicarakannya (Bayangkan satu topik tetapi berbagai macam bahasa membahasnya, mulai English sampai bahasa daerah :-) )

Ok, saya mencoba menceritakan tentang pengalaman saya dan teman yang telah cerita ke saya tentunya, tentang pengaruh positif piala dunia terhadap kehidupan kita sehari-hari:

1. Piala dunia mengajari kita untuk fair play. Maksud loe… (he..he..sudah kutebak). Pemain bola yang profesional dituntut mengikuti aturan2 main yang benar dan tidak melakukan pelanggaran2 atau kecurangan (seperti mencetak gol dengan tangan – kasus Maradona). Kalau sudah semua fair play (seperti pemain, wasit, penonton & so on) diharapkam tidak ada lagi tawuran massal antar pemain atau penonton. Kita sebagai anak kos misalnya, jika teman sebelah kamar menutup pintu kamarnya rapat2 dan sudah jelas2 memberikan isyarat mau menonton sendiri, jangan kita paksakan mau numpang nonton. Pergi saja ke warung kopi or café yang menyediakan nonton bareng bola, ya pakai modal sedikitlah, beli aja segelas teh manis hangat….dan sepotong ubi singkong rebus….:-D

2. Piala dunia mengajari kita tentang demokratis, dari rakyat – oleh rakyat – dan untuk rakyat. Memang sepakbola merupakan olahraga yang sangat merakyat. Seperti Brazil (juara dunia 5 kali), disebutkan bahwa tanggung jawab pelatih tim nasional disamakan dengan tanggung jawab presiden – Ini sih saya baca di detik.com. Sepakbola juga tidak memandang negara miskin atau negara kaya, negara maju atau berkembang, talenta2 bagus dapat muncul dari negara mana saja. (But when good talent can come from Indonesia? We still wait….). Jadi ingat teman kos dulu yang mempercepat jadwal malam minggu dengan pacarnya, sehingga satu jam sebelum kick off sepakbola dimulai sudah berada di kos kembali. Mungkin pacarnya sudah demokratis kali ya….or … Trus kalau nonton bola bareng, kita harus bisa menerima kalau orang di sebelah kita teriak “gooooollll….” sekencang2nya, bukan apa2 sih, itu juga merupakan hak azasi setiap manusia utk teriak “gooooollll….” kalau bola sudah masuk ke gawang (dijamin…dalam konvensi jenewa:-)).

3. Pentingnya kerjasama dan saling memberi. Seorang Ronaldinho atau Ronaldo tidak pernah hebat kalau tidak ada kerjasama dengan pemain lain. Bayangkan aja bagaimana bisa mencetak gol kalau tidak pernah diumpan bola oleh pemain lain :-). Begitu juga penonton di rumah, harus pandai kerjasama dan saling memberi. Misal kalau di rumah kos ada lima orang, tinggal diminta per orang 2000 rupiah. Lalu dengan uang terkumpul tersebut kan bisa beli pisang goreng hangat dan kopi kapal api sebungkus. Jadi jangan lepaskan hari2 anda dengan kreativitas. Daripada nonton bola gigit2 jari saja, kan lebih asyik gigit goreng pisang hangat dan menyerudut kopi panas. Perlu ingat bahwa nonton bola perlu energi lho untuk teriak dan melewati ketegangan.

4. The right man is on the right place. Pada sepakbola semua pemain sudah memiliki peranan masing-masing. Kiper bertugas menjaga gawang, penyerang bertugas menjebol gawang lawan. Kalau seorang pemain belakang ikut membantu serangan bisa saja, asal jangan lupa dengan tugas utamanya. Begitu juga dengan pelatih, walaupun memiliki kuasa memasukkan atau mencoret pemain dari tim, tapi tidak bisa sembarangan. Karena pelatih harus melihat keseimbangan tim secara profesional, buka karena faktor like and dislike. Begitu juga dengan kita sebagai penonton, jangan lupa mengucapkan terima kasih kalau sudah numpang nonton :-) karena besok malam kan mau tumpang lagi (jangan lupa sekali2 bawa snack juga, he..he…)


Comments: Post a Comment

<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?